Politik Australia

Labor Vs Liberal

Labor Vs Liberal

Ada 2 pemain utama dalam politik di Australia: Partai Buruh dan Koalisi Partai (Liberal). Selebihnya adalah partai kecil seperti Partai Greens dan puluhan partai-partai yang lebih kecil lagi, seperti: Partai Sekuler, Partai Perokok (Smoker Rights Party), Partai pemburu dan pemancing (Shooters and Fishers Party), Partai Sex (Australia Sex Party), bahkan Partai Wikileaks pun ada.

Seperti pada negara lainnya, agenda utama masing-masing partai adalah masalah ekonomi dan kesejahteraan disusul dengan masalah kesehatan, pendidikan, pengungsi, dan hal-hal lainnya seperti perkawinan sesama jenis.

Sistem perwakilan federal di Australia menganut 2 kamar (bicameral): Lower House (Majelis rendah) dan Upper House (Majelis Tinggi). Lower House proporsional dengan jumlah pemilih. Misalkan di negara bagian New South Wales yang penduduknya terbanyak akan mempunyai wakil yang duduk di Majelis ini lebih banyak dari negara bagian Tasmania, misalkan. Anggota Majelis rendah ini disebut sebagai Member of Parliament (Anggota Dewan). Sementara pada Upper House, keterwakilan tidak ditentukan oleh banyak – sedikitnya jumlah penduduk. Setiap negara bagian punya perwakilan yang sama yaitu kurang lebih 1 lusin. Idenya adalah: agar jangan sampai terjadi negara bagian yang banyak penduduknya mendominasi pembentukan regulasi. Anggota Majelis Tinggi ini disebut sebagai Senator (seperti DPD di Indonesia). Para Senator di Majelis Tinggi Australia ini bisa menjegal legislasi yang dibuat oleh Majelis Rendah. Oleh sebab itu, kepentingan partai politik juga sangat tinggi untuk bisa mendudukkan wakilnya di Senat.

Dua pemain utama Australia tidak berbeda dengan negara-negara lain. Partai yang lebih “sosialis” alias memperjuangkan kepentingan pekerja yang diwakili oleh Partai Buruh, dan partai yang lebih bebas dan “kapitalis” yang cenderung memperjuangkan kepentingan juragan-juragan kakap diwakili oleh Koalisi Partai (Liberal). Dua kutub ini di negara manapun selalu ada, cuma level dan ekstremisitasnya berbeda-beda. Seperti di US, Partai Demokrat lebih cenderung “sosialis”, sementara GOP cenderung fokus ke kepentingan korporasi besar dan kontrak2/project2 fantastis hankam.

Partai Labor, sebagai wakil grup sosialis punya pakem kebijakan fiskal yang mendasar: More Tax to Corporation. Filosofinya: dengan pajak yang lebih tinggi bagi korporasi, pemerintahan lebih punya uang di kantong dan bisa membelanjakannya dalam bentuk program-program kesejahteraan seperti: memperbanyak dokter dan perawat, memperbanyak guru, menambah fasilitas rumah sakit, tunjangan ini itu dsb. Sementara Partai Liberal, sebagai wakil grup pengusaha besar filosofinya adalah: less tax, let market correct itself. Dengan sedikit memanjakan korporasi besar dengan beban pajak yang lebih kecil diharapkan akan berekspansi dan akan menjadi roda penggerak ekonomi utama. Ekonomi yang bergerak dan berkembang akan mensejahterakan negara dengan sendirinya.

Mana yang lebih benar? Saya rasa tidak ada benar salah di sini. Yang ada hanyalah konsekuensi. Jika memilih partai yang cenderung sosialis, warga negara akan termanjakan dengan program kesejahteraan dan jaring pengaman. Tetapi, minusnya adalah, program kesejahteraan bukanlah pengeluaran yang murah. Kecenderungannya adalah over-budget. Ditambah dengan faktor eksternal seperti perekonomian dunia yang memburuk, pemerintahan yang sosialis bisa kebobolan di penghujung era dengan defisit anggaran yang membengkak. Sementara, jika memilih partai yang cenderung liberal/kapitalis, biasanya pertumbuhan ekonomi cukup bagus karena korporasi yang berekspansi akan mempunyai efek multiplikasi ke pertumbuhan ekonomi. Tetapi minusnya adalah, pemerintah tidak akan punya banyak duit di kantongnya. Otomatis akan terjadi banyak pengurangan program-program kesejahteraan. Lagi-lagi, jika ada faktor eksternal yang mengganggu stabilitas ekonomi, pemerintahan juga bisa berakhir dengan defisit (kadang harus menaikkan pajak juga) karena duit yang terbatas tidak akan cukup membiayai program-program kesejahteranan mendasar yang meskipun sudah disunat sana sini.

Jadi seperti uraian di atas, semua tawaran ada plus minusnya. Sementara WN memilih berdasarkan kepentingannya pada tahun2 mendatang (short term). Biasanya, jika perekonomian dunia membaik, pemilih akan cenderung memilih partai liberal/kapitalis, tapi jika perekonomian dunia buruk, partai sosialis lebih diminati karena membantu dalam waktu-waktu sulit.

Bagaimana dengan Indonesia? sepertinya Indonesia 2014 masih akan berkutat dengan hal-hal sekunder ketimbang platform yang ditawarkan. Asalkan dia sering selebriti sering nongol di TV dan kelihatan “baik dan alim” apalagi sering kasih2 duit, maka akan dipilih — tidak peduli program apa yang akan dijanjikan. Politikus-politikus Indonesia banyak yang tidak jelas. Jika ditanya, jawabannya selalu umum: “Saya akan basmi korupsi”, “Saya akan memajukan ekonomi”. Tapi bagaimana cara dan metodenya tidak jelas. Semoga bisa jadi perbandingan dan masukan.

About tikitakablog

www.facebook.com/tikitaka.fb
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Politik Australia

  1. Pingback: Pemilu Australia 2013 | Tikitaka's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s