Hiruk Pikuk E-KTP

e-ktp

Surat edaran Mendagri Gamawan Fauzi tentang pelarangan fotokopi e-ktp baru-baru ini menyulut kebingungan bagi para pengguna ktp model baru ini sekaligus juga bagi institusi yang ingin menggunakannya sebagai bukti identitas.

Sebenarnya ada beberapa dimensi atas kehebohan ini. Dari sisi Kemendagri-nya sepertinya kurang sosialisasi, sementara dari sisi pengguna masih terjebak dengan cara pandang  lama.

E-KTP ini adalah barang baru yang canggih dan digadang-gadang akan menghilangkan sebagian besar keruwetan pendataan dan pencatatan sipil di Indonesia. Sudah selayaknya kita harus berpikir positif terhadap produk ini. Setiap barang baru apalagi yang secanggih ini, sudah selayaknya otoritas pembuat, dalam hal ini kemendagri, mempersiapkan sosialisasi jauh-jauh hari sebelumnya. Barang baru yang punya circuit elektronis di dalamnya sudah pasti mempunyai manual dan perlakuan yang berbeda dari id kertas/plastik biasa. Saya coba mencari di website kemendagri tidak menemukan dokumentasi yang layak terhadap produk ini. Harusnya kemendagri bergembira dan antusias mengenalkan produk ini. Kalau media TV dan koran mahal, gunakan website dan kalau perlu buat domain khusus seperti e-ktp.go.id dan isi contentnya semenarik mungkin. Mulai dari kecanggihan fiturnya, penggunaannya, cara menggunakannya, keuntungan user dan institusi, FAQ, tips, cerita di lapangan, proses pembuatan, kesan pesan pengguna dsb. Buat PDF nya dan buat animasi flashnya supaya orang lebih mengerti dan tertarik. Jadi kesimpang siuran informasi bisa diminimalisir. Selama ini pengguna dibiarkan menerka-nerka dalam kegelapan. Akhirnya banyak tuduhan gelap dan nada sinis berkeliaran seperti: “ktp nya ngga ada bedanya!” atau “mana chip nya?” “kita ditipu”, “duit triliunan cuma buat ktp plastik biasa”, dsb. Ini mengakibatkan pengguna apatis, apalagi ktp ini sudah dibagikan ke pengguna. Jadi tidak salah jika ada yang sudah menggunakannya dengan cara di-stapler atau perlakuan lain yang tidak selayaknya.

Sementara itu, dari sisi pengguna sudah selayaknya update dan mencari tahu serta mulai mengubah perlakuan terhadap produk canggih ini. OK lah mungkin surat edaran larangan memfotokopi dan menstapler agak terlambat karena pengguna sudah mengantonginya berbulan-bulan. Tetapi, jika ada surat edaran dari otoritas pembuat (kemendagri) mbok ya dijadikan acuan dan mencari tahu info produk sebenarnya. Jangan main tuduh seperti “kita ditipu triliunan karena chipnya tidak ada” dsb. Juga sebagai pengguna kita harus lebih adaptiv. Kalau tidak boleh difotokopi, cari jalan lain. Sekarang sudah jamannya mobile  device. Kalo dilarang fotokopi (terlepas dari pro kontra polemiknya), kita harus cari jalan lain. App scanner di mobile yang memanfaatkan camera, misalnya. App ini bisa mengkoreksi hasil capture kontras, “keystone”, dsb lalu menyimpannya secara wireless ke piranti penyimpan terpisah atau langsung bisa di-print. Bahkan jauh lebih mudah dari memfotokopi. Yang penting adalah attitude kita haruslah adaptable terhadap teknologi, Jangan gagap. Dont avoid. Embrace it!

Secara teknologi, e-ktp ini adalah implementasi smart-card yang sudah berkembang lama di eropa. Sementara Amerika perlahan juga mulai mengadopsi (gengsi kaleee karena eropa sudah duluan). Kartu ini smart karena ada chip yang dibenamkan ke fisik kartunya. Berbeda dengan kartu-kartu lama yang menggunakan pita magnetis (strip hitam/coklat di belakang kartu) dan atau barcode yang mudah dibaca, diduplikasi, serta tergantung pada server untuk data lainnya, kartu ber-chip tidak perlu koneksi ke server untuk mengambil data yang dibutuhkan. Kenapa? karena data yang dibutuhkan sudah disimpan di chip tersebut. Akan tetapi, meskipun data tersimpan lokal di chip, tidak sembarang alat bisa membaca atau menduplikasinya, by design. Spesifikasi chip juga bermacam-macam. Semakin smart, semakin tinggi security level, serta semakin besar kapasitasnya, semakin bagus material pembuatnya, harganya semakin mahal. Data yang ada di chip, by design, juga dienkrip/disandi. Kalau tidak menggunakan PIN atau key lain untuk men”decipher”nya, data yang bisa terbaca useless karena merupakan karakter acak tanpa makna.

Ada 2 jenis smart card menurut desain fisik dan metode membacanya: yang contact dan contactless. Yang contact, sosok chip akan kelihatan seperti chip yang kita lihat pada kartu HP GSM. Sementara yang contactless biasanya tersembunyi diantara 2 lapisan muka kartu. Chip contactless adalah teknologi Near Field Communicaion/NFC memanfaatkan Radio Frequency (RFID) . Ada antena halus yang mungkin menggunakan area cukup luas pada kartu.

E-ktp yang kita pakai sepertinya adalah yang contactless (chip tersembunyi/tidak kelihatan). Cara membacanya adalah dengan mendekatkan ke bidang pembaca saja (tidak perlu bersentuhan), persis seperti kartu BCA Flazz. Untuk alasan tidak menstaple adalah karena kita tidak tahu lokasi chip (karena tidak kelihatan) apalagi jalur antena yang mungkin menjalar melintang pada kartunya. Kalau staplenya tepat mengenai antena atau chip, dikhawatirkan akan merusak sirkuitas di dalammnya yang mengakibatkan ektp itu tidak bisa dipakai secara elektronis lagi.

Seperti produk semikonduktor lainnya, sebenarnya chip yang telanjang/tanpa pelindung rentan terhadap sinar UV (ultra violet). Ini mungkin alasannya mengapa ada edaran dilarang menfotokopi. Meskipun saya rasa tidak tepat (karena by design, chip2 yang dipasarkan sekarang dilapisi ekstra lapisan metal lainnya untuk melindungin dari UV dan serangan keamanan termal lainnya), larangan ini bisa dimengerti dan dimaklumi. Kita tahu bahwa fotokopi menggunakan sinar yg terang untuk menangkap citra dari benda yang akan difotokopi. Jika chip nya tanpa pelindung mungkin bisa rusak, tetapi chip ektp ini adalah generasi terbaru yang seharusnya punya  level perlindungan tertentu. Lagipula BPPT sudah mengeluarkan advisori teknis yang menyatakan aman untuk difotokopi.

Untuk e-ktp yang kita punya, sepertinya prosedur untuk membacanya adalah menggunakan sidik jari/biometrik lainnya sebagai “decipher”/mendekripsi data supaya bisa terbaca. Jadi kalau ada institusi mau melihat keaslian/otentisitas kartu dan memeriksa apakah orang yang menggunakanannya adalah yang benar empunya, maka kartu akan di-scan dan orangnya akan disuruh menempelkan jarinya ke alat scanner jari. Jika sidik jarinya adalah key yang “match” untuk membaca data, maka data2 di dalam chip akan tampil. Dan begitu pula sebaliknya kalau tidak “match”. Kartu pun juga harus dilihat secara fisik seperti melihat uang kertas. Kartu asli dari kemendagri harusnya punya ciri fisik dan nomer seri tertentu. Misalkan ada hologram, tulisan halus, atau tinta UV. Setiap chip yg dicetak di dunia ini punya nomer seri fisik yang bisa diperiksa juga (bukan NIK). Ini untuk mencegah kartu ktp aspal.

Jika memang sistem ektp ini sudah berjalan dan sukses, ke depannya mungkin akan bisa dikembangkan sebagai dompet elektronis. Ada nominal uang yang dibenamkan. Sehingga bisa digunakan sebagai alat pembayaran. Tapi itu nanti. Karena impactnya untuk digunakan transaksi sangat luas. Butuh analisa, waktu dan proses. Untuk sekarang, kita lihat saja sepak terjang E-KTP ini. Amati, nikmati. Dont avoid. Embrace it!

About tikitakablog

www.facebook.com/tikitaka.fb
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s