In Guns We Trust

in-guns-we-trust

Siapa yang tak terenyuh dengan peristiwa penembakan masal yang terjadi di Sekolah Dasar Sandy Hook, Newton – Connecticut baru-baru ini. Dua puluh anak sekolah plus 6 guru tewas diberondong senjata api sebelum akhirnya si penembak bunuh diri dengan senjata di tangannya.

Media dan politikus langsung bereaksi. Topik Gun Control yang mati suri seperti hidup kembali. Gun Control adalah topik lama yang on dan off  bagi negara US. Kalau habis terjadi tragedi penembakan, biasanya terjadi debat politik panas antara pendukung pro dan kontra. Tetapi jika sudah kurang lebih sebulan di mana media sudah tidak lagi meliput maka orang akan lupa dan akhirnya debat tersebut berhenti. Begitulah seterusnya.

Kepemilikan senjata api (senpi) merupakan hak bagi WN Amerika yang dijamin oleh Second Amendment (perubahan kedua) Konstitusi. Maka melarang membeli senjata adalah sama saja dengan mencabut hak WN, menurut yang diyakini kebanyakan WN Amerika. National Riffle Association (NRA) sebagai pelobi kuat di DPR dan Senat, selalu menyuarakan akan pentingnya hak kepemilikan senjata untuk WN. Bahkan baru-baru ini komentar pertama atas tragedi Sandy Hook, salah satu chief executive NRA berujar bahwa untuk mencegah berulangnya tragedi Sandy Hook, maka setiap sekolah harus memperkerjakan Satuan Pengaman bersenjata. Alih-alih orang akan melihat perubahan mendasar dalam sikap NRA dan penjualan senjata oleh industri/bisnis pendukung NRA, yang ada malah anjuran membeli lebih banyak senpi yang artinya adalah anjuran peningkatan produksi senjata yang akan lebih menguntungkan industri/pebisnis senpi.

Second Amendment pada konstitusi US terjadi di tahun 1791, di mana pada masa itu masih terjadi kecurigaan antara patriot yang anti federalist, yang mencurigai masih adanya oknum federal yang menjadi kaki tangan Inggris. Jadi untuk mencegah ‘pemerintahan yang jahat’ yang ingin mengembalikan ke status koloni, maka dimunculkan ide mempersenjatai sipil. Untuk keadaan sekarang, terjadi perdebatan apakah ide mempersenjatai sipil masih relevan mengingat keadaan sekarang jauh lebih civilised dibandingkan era “sheriff dan cowboy” zaman dulu.

Banyak analis dari pakar menyatakan bahwa senpi hanyalah alat. Manusianya lah yang membunuh. Banyak yang menganalisa dan menghubungkan dengan budaya kekerasan di media seperti TV dan video game atau latar belakang broken home. Meskipun memang faktor-faktor di atas berkontribusi, tetapi bagi saya pendapat ini terlalu abai. Mengabaikan sesuatu yang “blatantly obvious“: gun possession (kepemilikan senpi) dan kemudahan meng-aksesnya. Jika kepemilikan senjata mematikan tidak ada hubungannya dengan sebuah tragedi, kenapa US capek-capek berjuang supaya negara seperti Korea Utara tidak bisa punya senjata nuklir? Bukankan senjata nuklir juga cuma alat? (cuma, memang skalanya lebih masiv). Ini menunjukkan bahwa tragedi kemanusiaan sangat berhubungan dengan aksesibilitas ke senjata mematikan. Kalaupun senjata mematikan tersebut tidak digunakan, barang ini bisa dibuat sebagai alat tawar-menawar. Seseorang/sekelompok yang mempunyai senjata mematikan punya “bargaining power” lebih besar karena bisa lebih mengancam.

Saya tidak mau terseret benar atau salahnya sebuah kebijakan seperti kepemilikan senjata. Bagi saya tidak ada yang salah atau benar. Yang ada hanyalah konsekuensi. Jika US memilih jalan pembebasan membeli senjata bagi rakyat sipil, they must live with that. Pengetatan penjualan senjata menurut perkiraan saya tidak akan berarti apa-apa di masa mendatang, paling hanya menurunkan statistik sedikit. Seperti larangan penjualan spray paint (cat pilox) bagi minor (usia di bawah umur/remaja), tetap saja banyak grafiti/vandalisme oleh para remaja di mana-mana karena barangnya tetap banyak beredar dan accessible. Faktanya, pembunuh di Sandy Hook (Adam) MENGGUNAKAN PISTOL IBUNYA. Si pembunuh ini tidak punya izin, bahkan tidak akan punya izin karena sedikit psikosis. Adam berhasil melumpuhkan ibunya yang mengkoleksi beberapa senjata otomatis, dan menggunakan senjata-senjata tersebut untuk membunuh. Untuk ke depannya, jangan berharap tragedi seperti Sandy Hook tidak akan berulang, kecuali ada perubahan yang mendasar terhadap kebijakan.

About tikitakablog

www.facebook.com/tikitaka.fb
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s