Perlunya Ruang Terbuka Publik

Barusan sempat membaca artikel detik.com tentang 5 tempat rekreasi gratis di ibu kota. Dari situ tergambar bahwasanya animo masyarakat untuk ruang terbuka yang gratis sangat besar serta tampaknya belum terakomodasi secara baik. Dari gambar itu pula terlihat bahwasanya rekreasi di ruang terbuka merupakan kebutuhan alami setiap manusia tanpa melihat status sosialnya. Pinggir kali buatan BKT yang seyogyanya bukan tempat rekreasi resmi ternyata dipadati warga yang sekedar ingin duduk-duduk di bawah rindangnya pohon sambil melihat landscape yang sedikit luas.

Adalah kebutuhan universal, di mana setiap orang ingin punya waktu “hening”. Tidak ingin diganggu, baik urusan kantor, rumah tangga, bisnis dsb meski waktunya hanya sejenak. Quality time istilahnya. Meskipun pendek, tetapi jika frekuensi gelombak otak bisa diturunkan dan masuk ke zone relaks, ditengarai selain sangat bagus untuk kesehatan mental dan fisik, juga bisa memicu ide2 kreatif dan briliant.

Banyak sudah tulisan yang dimuat di media seperti KOMPAS yang berupa hasil penelitian bahwa kota Jakarta tidak lagi ideal untuk ditinggali karena banyak warga yang stres dan hulu permasalahannya adalah kesalahan tata, salah satunya tata ruang. Kriminal, kemacetan, gaya hidup yang sangat kontras, membuat warga hidup dalam tekanan yang sangat besar. Sementara pemerintah hanya concern terhadap pertumbuhan ekonomi dalam angka-angka. Pembangunan lebih banyak hanya mempertimbangkan kemajuan masalah fisik dan berorientasi proyek. Gedung bertingkat, mal yang besar, ruko-ruko/minimarket yang menjamur. Semua pembangunan sepertinya hanya menjadikan warganya  sebagai robot untuk pemenuhan target pertumbuhan angka-angka ekonomi.

Ini harusnya dirubah. Momentum kemenangan jokowi yang disebut2 sebagai angin perubahan harus dimanfaatkan. Tidak bisa tidak, warga Jakarta harus punya lahan terbuka publik (gratis) yang lebih banyak lagi jika masih ingin kembali ke kehidupan yang manusiawi. Kalau bisa, menodong gubernur yang baru untuk membuka lahan baru entah bagaimana caranya, karena setiap jengkal tanah di jakarta sudah ada yang punya.

Sebagai perbandingan, saya sajikan sebuah kota sebuah negara yang lebih beruntung mempunyai lahan terbuka lebih banyak. Kota ini berpenduduk 4 juta lebih. Pemerintah lokalnya, meskipun sama2 bertipe birokrat yang lamban, tetapi masih ada target yang jelas dan masih punya sistem kontrol yang bagus untuk memonitor kinerjanya. Saya ambil random gambar satelit google dan di-crop sebesar kira2 4km2:

Perhatikan tanda panah merah yang merupakan footprint dari ketersediaan ruang terbuka pada area random 4 km2 (2 km x 2 km). Ini yang disebut dengan komitmen. Tidak peduli dengan ledakan penduduk, tanah yang sudah dialokasikan tidak akan dikonversikan menjadi bangunan atau peruntukan ekonomi. Paling tidak dibuat sangat sulit prosesnya. Sementara, dengan kontrasnya, aset2 tanah pemda DKI di tahun2 80an dan 90an, malah ditukar guling dengan swasta plus mark down yang tidak masuk akal.

Berikut esai gambar-gambar yang mungkin menjadi  penyadaran bahwa warga DKI sudah dirampok habis-habisan di masa kemarin2 dan sekaligus sebagai penyemangat untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Potret buram Ruang Terbuka yg Dirampok

Potret Anak-anak yg lebih beruntung

bermain 1

bermain 2

openspace1

taman-umum2

About tikitakablog

www.facebook.com/tikitaka.fb
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s