Sedikit Ulasan tentang Kecelakaan Xenia Kemarin

Turut berbelasungkawa atas jatuhnya korban sia-sia akibat kebodohan seorang pengemudi. Terlepas dari kekesalan saya membaca betapa bodoh dan cerobohnya seorang pengemudi, saya cuba mengumpulkan beberapa point penting dari kejadian yang saya baca dan cuplikan media yang saya tonton. Penanganan kecelakaan lalu lintas terlihat masih tidak terpadu, kurang tanggap dan kelihatan asal bertindak.

1. Polisi memang cepat berada di TKP. Tapi mungkin karena ada pos polisi yang berada di bundaran Pak Tani. Polisi memang terlihat langsung “mengamankan” pengemudi. Sayangnya kurangnya fasilitas pendukung, menyebabkan analisa tidak bisa dilakukan ditempat seperti “breath test” atau tes nafas untuk menghitung kadar alkohol dalam darah yang mana dari awal sudah sangat jelas terlihat kecelakaan diakibatkan karena pengaruh intoksikasi. Di negara maju, seseorang yang kedapatan mengemudi di bawah pengaruh alkohol dan hasil test menunjukkan jauh di atas ambang yang diperbolehkan , maka si pengemudi langsung diborgol (meskipun tidak terjadi kecelakaan) dan diperlakukan sama seperti seseorang yang tertangkap basah mencuri. Sedangkan pada kejadian kemarin, si pengemudi masih bisa bebas main HP dan masih sempat menutup akun twitternya.

2. Tidak terlihat adanya ambulans atau pemadam kebakaran atau beberapa ekor mobil polisi. Padahal Indonesia atau minimal Jakarta sudah punya hotline 112 yang punya fungsi seperti 911 atau 000 di negara maju. Untuk kecelakaan sekelas Xenia kemarin (9 orang meninggal bo’), harusnya 3 jenis instansi tersebut langsung hadir dalam hitungan menit di tempat kejadian. Kemana fasilitas itu? Padahal RS Gatot Subroto hanya berjarak kurang lebih 1.5Km, RS Cipto paling jauh cuma 5Km. Mana koordinasi 112 yang biaya operasionalnya dari duit pajak masyarakat? Di negara maju, ambulance sama seperti pemadam kebakaran tidak menempel pada Rumah Sakit. Pos ambulance ada di banyak sudut kota. Jadi jika terjadi kecelakaan tidak perlu ribet dengan birokrasi rumah sakit, tetapi independent sehingga langsung bergerak cepat menuju TKP.

3. Masyarakat perlu edukasi penanganan kecelakaan yang lebih baik. Jakarta dengan populasi penduduk yang tinggi dan di”anugerahi” dengan tingkat kecelakaan yang tinggi pertahun sudah selayaknya diperkenalkan secara lebih serius bagaimana tindakan yang pantas bila melihat atau terlibat kecelakaan. Mungkin harusnya ada mata pelajaran wajib “PMR” dalam satu semester di SMA. Coba anda lihat kemarin: para korban yang sekarat langsung dibopong begitu saja dan langsung diletakkan di mobil bak terbuka satpol PP (yang tidak rata karena ada kursinya). Mungkin maksudnya baik supaya cepat mendapat pertolonngan di rumah sakit. Alih-alih menolong korban, tindakan ini malah bisa “mengirim” lebih cepat si korban ke alam baka. Kenapa? Karena biasanya pada kecelakaan lalu lintas, cedera pada tulang belakang dan tulang leher hampir pasti terjadi. Jikalau anda tidak tahu dan belum pernah di-training bagaimana memperlakukan korban dengan cedera seperti ini, kemungkinan besar cederanya bertambah parah dan langsung mengakibatkan kematian. Makanya sebenarnya prosedur yang benar adalah: Jika anda tidak tahu / belum pernah ditraining bagaimana memperlakukan korban laka yang parah (masih hidup tapi sudah tidak sadar/tidak bisa ngomong), sebaiknya jangan memindahkan si korban (kecuali ada bahaya yang lebih besar seperti ledakan api atau potensi tertimpa beban berat). Bukan berarti tidak usah membantu, tetapi lakukan hal lain yang lebih penting seperti koordinasi telepon 112 atau membantu mengisolasi area si korban. Biarkan para profesional/orang yang berlatar belakang medis/paramedis yang melakukan tindakan evakuasi korban.

4. Untuk kejadian sebesar kemarin (9 nyawa melayang), TKP merupakan area crime scene yang serius. Jalan harusnya langsung ditutup dan police line harus langsung dipasang. Ini untuk memudahkan olah TKP yang sangat berguna di pengadilan. Kalau terlambat ditutup, selain bisa mengganggu jalannya tindakan terhadap korban kecelakaan, masyarakat yang memenuhi TKP bisa merusak alat bukti. Belum lagi adanya orang-orang yang memanfaatkan kesempatan mencopet atau menguras harta benda si korban.

About tikitakablog

www.facebook.com/tikitaka.fb
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s