Boat People

Hari sabtu kemarin terjadi kecelakaan kembali yang menimpa para pencari suaka (asylum seeker) ke Australia. Beritanya bisa dilihat di semua media, salah satunya detik:

http://www.detiknews.com/read/2011/12/18/050145/1793657/10/kapal-imigran-gelap-yang-tenggelam-di-trenggalek-kelebihan-kapasitas?9922022

Para pencari suaka ini mempertaruhkan nyawa menumpang kapal nelayan Indonesia yang mempunyai kelengkapan keamanan seadanya. Kapal yang dijejali penumpang melebihi kapasitas ini karam akibat dihantam ombak besar. Ini bukan kejadian pertama kali (dan tampaknya bukan yang terakhir kalinya).  Salah satu kejadian serupa juga terjadi 1 tahun yang lalu, silakan lihat tautan ini.

Pencari suaka nekat menggunakan perahu ini dijuluki “boat people”, julukan yang dulu juga diberikan kepada orang-orang vietnam yang lari dari negaranya menggunakan perahu karena perang. Masalah “boat people” ini cukup pelik dan masuk dalam kancah perpolitikan di Australia. Australia sebagai salah satu negara yang sudah meratifikasi konvensi jenewa 1951 tentang masalah pengungsi, mempunyai kuota dan kewajiban memproses para pencari suaka ini untuk diberikan visa pengungsi dan akhirnya bisa diteruskan menjadi penduduk dan warganegara (tergantung kasusnya).

Latar belakang boat people ini utamanya berasal dari negara-negara yang berkonflik dan bergejolak, seperti afghanistan, irak, srilanka, dll. Tetapi kita tidak tahu apakah bermigrasinya dilatarbelakangi benar-benar karena konflik (konvensi jenewa memuat definisi siapa yang disebut sebagai pengungsi yang wajib ditolong) atau karena alasan ekonomi. Karena belum tentu semuanya dilatarbelakangi oleh konflik. Bukan menuduh, kalaulah memang karena terusir karena konflik, maka negara lain yang lebih dekat dan sudah mensepakati konvensi jenewa harusnya menjadi tujuan. Tetapi kenapa harus jauh ke Australia? Untuk afghanistan, Irak, Iran, Lebanon, maka negara terdekat yang cukup stabil adalah Turki dan negara2 Eropa. Sedangkan untuk Srilanka mungkin sedikit bisa diterima alasannya ke Australia karena relativ lebih dekat. Untuk sekedar diketahui, para “pengungsi” ini jangan dibayangkan pergi dengan baju compang camping. Pengungsi ini punya dokumen resmi paspor dan datang dengan pesawat maskapai yang punya armada terbaru seperti Emirates. Mereka terbang menuju negara transit seperti Indonesia atau Malaysia (yg akhirnya masuk ke Indonesia juga). Di Indonesia, ada yang tertangkap sebagai imigran gelap dan dimasukkan ke panti imigrasi adapula yang berkeliaran dan hidup membaur dengan masyarakat (menunggu saat yang yang tepat untuk berangkat menuju Australia). Ada bahkan yang akhirnya menikah dengan penduduk Indonesia supaya lebih “aman”. Bagi yang belum tertangkap ini, sebelum menginjakkan kaki ke Indonesia mereka sudah mengantongi nama-nama sindikat/calo yang siap dihubungi. Sindikat ini (biasanya ada yg aparat militer dan cukong kapal) akan mengatur orang-orang yang akan diberangkatkan menggunakan perahu nelayan seadanya. Dan biayanya berkisar antaran US$6000-$7000 per orang. Sindikat ini akan mengatur dan mengusahakan agar perjalanan perahu ini bisa mencapai Christmas Island yang merupakan salah satu titik terluar Australia yang dekat dengan Indonesia (jaraknya kira2 400km dari pantai selatan Jawa Barat, atau kira-kira berjarak antara Jakarta-Semarang).

Kenapa harus dengan perahu seadanya? Kenapa tidak melalui proses resmi ke kedutaan? Ada beberapa alasan.

1.  Negara Australia yang meratifikasi konvensi Jenewa punya kuota per tahun untuk menerima dan memproses pengungsi. Bagi yang mengikuti prosedur melamar sebagai pengungsi lewat kedutaan akan memakan waktu lama karena antrian yang dibatasi oleh kuota per tahun ini. Mereka percaya bisa “melompat antrian” jika datang langsung lewat perjalanan membahayakan langsung ke christmas Island. Mereka percaya (apalagi dilengkapi insiden kapal karam/tertangkap patroli Australia) bisa menarik simpati bagi NGO atau pers sehingga bisa menekan secara politis parlemen di canberra.

2. Fasilitas penantian yang lebih bagus. Kalaupun tertangkap kapal patroli dan dimasukkan ke tempat penampungan pengungsi di Chrismast Island, fasilitasnya sangat memadai. Ada gym, ada internet, makan melimpah dsb. Jauh dari fasilitas jika tertangkap di negara lain termasuk Indonesia. Inilah yang menjadi mimpi semua yang memutuskan berlayar.

3. Alasan dokumen tidak lengkap karena kapal karam. Tidak semua orang yang nekad berangkat berlayar ke Christmas Island adalah orang pengungsi. Banyak diyakini hanya merupakan “economic migrant” alias orang yang bermigrasi dengan tujuan ekonomi yang lebih baik dari tanah airnya. Jika mereka ikut secara prosedural, maka jelas tidak akan punya kesempatan karena kertas dari UNHCR (badan PBB yang memberikan status pengungsi) hanya diberikan kepada yang benar-benar pengungsi. Tetapi jika mencapai ChristmasIsland dengan penuh insiden, maka terbuka kesempatan untuk menarik simpati sambil beralasan dokumen hilang dalam perjalanan yang ganas.

Kenapa ke Australia?

Kalau dilihat dari banyaknya negara yang sudah meratifikasi konvensi jenewa dan protokol sejenis, maka seharusnya logikanya pengungsi tersebut akan memilih negara yang terdekat. Ini berkaitan dengan alasan praktis, baik dari segi biaya kesamaan budaya, dsb. Tetapi kenapa dari Timur Tengah menyabung nyawa hanya untuk sampai ke Christmas Island?

Australia adalah negara maju dan stabil baik dari politik dan ekonominya. Tanahnya masih luas, sedangkan penduduknya hanya berkisar 24 juta. Kekayaan alam berupa mineral masih melimpah dan belum dieksploitasi. Secara ekonomi, Australia membutuhkan pekerja untuk mengolah kekayaan alam tadi untuk menggerakkan roda perekonomian. Secara geografis, Australia sangat dekat dengan Asia yang secara ekonomi diramalkan akan terus berkembang. Ini sangat membantu, mengingat pasar Eropa dan Amerika justru sedang terpuruk di hari-hari belakangan ini. Sebagai negara maju, kebijakan dalam negeri yang anti diskriminasi sangat membuat nyaman para pendatang. Sistem adminstrasi kependudukan sangat maju dan saling terkoneksi. Penduduk yang mencari kerja tinggal menghubungi Centrelink untuk dibantu baik berupa tunjangan uang, pendidikan dan pencarian kerja. Jasa kesehatan pun cuma-cuma (meskipun harus antri) dan pendidikan juga tanpa biaya s/d tingkat SMU (biaya belajar di universitas juga rendah bagi penduduk tetap/WN).

Dengan segudang kemudahan dan kelebihan di atas saya rasa ada benang merah mengapa Australia menjadi magnet bagi para pengungsi meskipun jarak yang jauh membentang antara tanah air yang asli dan tanah harapan barunya.

About tikitakablog

www.facebook.com/tikitaka.fb
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s