Hiruk Pikuk Beda Lebaran

Beberapa kesalahpahaman beda hari lebaran kemarin, mungkin fakta ini bisa membantu:

1. Apakah beda penentuan lebaran karena perbedaan antara metode hisab (calculation) dan metode rukyat (observation)?

Jawab: Ya dan tidak. Sebenarnya penganut rukyat pun juga melakukan hisab. Cuma penentuan akhir kelompok rukyat, dilakukan dengan pengamatan hilal. Hisab/falak itu hanya alat, yang terpenting adalah kriteria dan definisi (lihat point di bawah). Yang tidak disepakati adalah definisi “bulan baru”, jadi bukan alat/hisabnya yang bermasalah.

2. Bagaimana jalan keluarnya supaya selalu bisa berhari raya yang sama?

Jawab: Semua kelompok harus duduk bersama dan saling menuju titik temu. Selama tidak ada kemauan menuju titik temu, kejadian ini akan selalu berulang.

3. Bagaimana jalan ketemu yang realistis?

Jawab: semua kelompok harus mensepakati berapa tinggi hilal minimum sebelum bisa dikategorikan bulan baru. Misalkan pada 3.5 derajat di atas ufuk setelah matahari tenggelam. Jadi jikalau hilal di bawah ketinggian itu, semua kelompok akan sepakat melanjutkan puasa keesokan harinya (tidak perlu rukyat, hanya hisab saja karena puasa akan digenapi jadi 30. Kalaupun mau dirukyat keesokan harinya pasti akan mudah kelihatan). Jalan ini merupakan jalan tengah, karena yang fanatik hisab, tetap menggunakan hisab, sedangkan yang rukyat juga bisa melakukan rukyat tetapi hasilnya akan sama.

4. Kenapa tidak menggunakan hisab saja? Kan seperti sholat, kita juga hanya melihat jam?

Jawab: Jangan salah mengerti. Lihat point no. 3. Kita sholat hanya melihat jam karena SEBELUMNYA SUDAH ADA KESEPAKATAN. Misalkan pada jam 6 sore tanggal 12 april, apakah sudah masuk maghrib? Karena sebelumnya sudah ada kesepakatan “apa yang dimaksud maghrib” maka kita bisa tidak perlu lagi melihat matahari secara langsung. Balik ke hilal, kalau semua sudah bersepakat kriteria bulan baru maka yang fanatik hisab bisa cuma dengan melihat tabel falak saja. Hisab itu cuma alat, yang terpenting memberi makna adalah kriteria dan definisi yang kita buat dari output alat itu.

5. Kalau yang lebarannya telat sehari, maka iedul Adha dan iedul fitri selanjutnya akan telat sehari dan 10 tahun kemudian akan telat 10 hari?

Jawab: Ya tidak begitu. Usia bulan itu adalah kira-kira 29.5 hari. Kalau bulan ini cuma berbeda beberapa jam (karena perbedaan kriteria), maka bulan berikutnya akan sama lagi. Penambahan sehari akibat pembulatan di bulan ini, biasanya akan terkompensasi berkurang sehari di bulan berikutnya. Artinya, di salah satu bulan-bulan berikutnya besar kemungkinan yang berdasarkan hisab akan menjadi 30 hari dan yang berdasarkan rukyat menjadi 29 hari. Akhirnya, yang hisab dan rukyat akan berbarengan lagi. Begitulah selanjutnya. Tidak akan pernah bertambah. Yang ada saling mengejar. Kalaupun berbeda hari itu sebenarnya akibat perbedaan beberapa jam yang mengalami pembulatan menjadi sehari.

6. Bagaimana kalau kita ikut keputusan Arab Saudi saja?

Jawab: Jangan mencampur adukkan sistem masehi/samsiyah (solar) dan hijriyah/qomariyah (lunar). Garis tanggalan hari masehi adalah statis di samudra pasifik (google key word: International Date Line). Sementara garis tanggalan hari qomariyah dinamis, tergantung di mana bulan terlihat pertama kalinya. Kalau garis tanggalan qomariyah membelah Indonesia dan Saudi, maka Saudi akan memasuki hari baru lebih dulu dari Indonesia. Jadi meskipun Saudi ada di sebelah “barat” Indonesia, belum tentu tanggalnya sama di siang yang sama —  itu jika mengikuti sistem qomariyah. Gambarannya begini, jika anda telat datang ke lomba balap Formula 1 yang sedang berlangsung, lalu anda melihat ada mobil di depan mobil Sebastian Vettel. Apakah anda langsung menyimpulkan Sebastian Vettel tidak sedang memimpin balap? Tidak kan? Mobil di depan Sebastian Vettel bisa saja tertinggal 1 putaran (di-overlap oleh Vettel). Jadi apa acuannya? Tentu garis start. Siapa yang lebih dulu melintas garis start di putaran yang sedang berjalan, dialah yang memimpin balap. Balik ke posisi geografis antara Saudi dan Indonesia, karena bumi itu bulat ya negara Saudi itu juga ada di timur Indonesia. Tidak percaya? silakan naik pesawat ke arah timur pasti akan sampai juga ke negara Saudi (meskipun lebih jauh dari pada terbang ke arah barat). Jadi kalau mau tau siapa yang lebih dulu masuk hari baru, acuannya adalah garis tanggalan. Sedangkan garis tanggalan qomariyah adalah garis berdasarkan visibilitas bulan. Intinya: kalau mau ikut keputusan Saudi, silakan tinggal di sana — itu baru relevan.

7. Di Asia Tenggara, hanya pemerintah Indonesia yang Iedul Fitrinya telat. Apakah ini artinya keputusan Pemerintah RI salah?

Jawab: Belum tentu. Kita harus tau apa metode dan kriteria negara tetangga. Ini yang menyebabkan keputusan berbeda. Dan ada satu hal lagi, garis tanggalan (qomariyah) berdasarkan bulan baru tidak lurus seperti garis bujur (utara-selatan). Tetapi sangat lengkung dan sangat mungkin yang di utara Indonesia ada di “depan” garis tanggalan sehingga bisa saja harinya sama dengan saudi. Tidak percaya? silakan lihat tautan ini :  http://www.icoproject.org/icop/shw32_1.gif

8. Kalau begitu kita bikin saja komite Internasional Lintas negara untuk menentukan kalender qomariyah global?

Jawab: Jangan bermimpi. Menentukan kriteria dalam taraf domestik RI saja susah sekali membuat kesepakatan. Apalagi terdiri banyak negara. Tapi sebenarnya usaha ke situ sudah di rintis. Ada standard “world islamic league”, “islamic society North America (ISNA), dsb.

About tikitakablog

www.facebook.com/tikitaka.fb
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s