Arisan Maut Transportasi Indonesia

Beberapa saat yang lalu saya menyempatkan membaca laporan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengenai beberapa kecelakaan yang cukup besar (menewaskan beberapa orang dan masuk headline koran-koran besar).

Setelah diamati ternyata cukup banyak insiden yang bisa dihindari jikalau setiap orang-orang kunci pada operator dan awak jasa transportasi bekerja dan bertindak sesuai prosedur.  Betul, dari infrastruktur fisik banyak juga yang harus dibenahi. Tetapi safety-factor dari engineering design masih memungkinkan menyelamatkan sebuah alat transportasi umum dari insiden kecelakaan jikalau prosedur masih ditaati.

Manusia, sebagai pengendali dari sebuah sistem transportasi saya simpulkan sangat berperan besar sebagai penentu. Ada contoh sebuah tabrakan kereta KRL di Pasar Minggu. Pada kasus itu, ada sebuah lampu signal di tepi rel (yang  menentukan masinis harus mengambil sikap tertentu) ternyata sering rusak/menyala merah yang menyebabkan kereta harus berhenti dan menjalankan protokol (aturan main/prosedur tertentu). Karena seringnya rusak, ada (mungkin beberapa) masinis mengabaikan sinyal dan prosedur. Pada insiden tersebut, sinyal kebetulan sedang menyala merah karena ada KRL rusak dan ada 1 KRL lagi yang menunggu di belakang KRL yang rusak. Sialnya masinis dari KRL yang baru datang belakangan tampaknya lengah/mengabaikan sinyal merah sehingga tabrakan pun tidak terhindarkan.

Dalam penyelidikan KNKT, diketahui bahwa masinis penabrak tidak familiar (mungkin juga pura-pura tidak familiar) dengan operasi tanpa blok. Semacam protokol untuk memasuki segmen/blok dengan sinyal merah yang cukup lama. Seharusnya ketika sinyal menyala merah cukup lama sedangkan sistem radio tidak berfungsi, masinis bisa masuk ke segmen tersebut dengan kecepatan sangat rendah sampai terlihat kereta di depan atau sampai sinyal berikutnya.

Dalam membaca laporan penyelidikan KNKT lain dengan kecelakaan serupa di atas, ternyata banyak insiden kecelakaan terjadi justru bukan pada kerusakan infrastruktur yang fatal. Tetapi lebih kepada tidak taatnya awak transportasi pada prosedur yang ada, entah itu ketidak tahuan atau pengabaian. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena keselamatan angkutan massal seperti kereta api, kapal laut, terlebih lagi pesawat udara sangat bergantung dari taatnya kepada prosedur pengoperasian.

Saya menduga pelanggaran prosedur sering dilanggar dikarenakan budaya dan lingkungan. Pada keadaan normal, banyaknya langkah2 prosedur dianggap berlebihan dan sering dipangkas. Akibat seringnya memangkas prosedur serta dilakukan setiap hari sepanjang tahun, akhirnya prosedur baku jadi terlupakan dan terdengar asing sementara prosedur yang sudah berkurang tersebut dianggap menjadi prosedur baku. Ini sangat berbahaya sekali. Meskipun keadaan tidak-normal itu sangat jarang, tetapi itu benar-benar akan terjadi dan memang terjadi. Dan terbukti tubrukan kereta menjelang stasiun Ps. Minggu di atas disebabkan oleh terasa asingnya pada prosedur baku.

Masih ingat kejadian hilangnya Pesawat Adam Air di perairan Sulawesi pada tahun baru 2007? Investigasi KNKT mengungkapkan bahwa kecelakaan yang mengakibatkan tewasnya seluruh penumpang dan kru bukan disebabkan oleh kerusakan pesawat. Tetapi lebih kepada pelanggaran prosedur yang dilakukan oleh pilot dan ko-pilot. Benar, ada masalah pada IRS (bagian dari instrumen navigasi) pesawat, tetapi ada prosedur lain yang bisa dijalankan yang bisa membuat pesawat bisa mendarat di tempat tujuan dengan selamat. Namun, kesibukan pilot dan ko-pilot mengutak atik alat yang rusak ini menyebabkan kontrol pesawat terabaikan dan akhirnya pesawat menukik tak terkendali. Kecelakaan ini semestinya sangat bisa dihindari jika Pilot membagi tugas: hanya salah seorang yang mengutak atik dan satu orang lagi mengontrol pesawat.

Kecelakaan laut pun sama saja. Banyak sekali prosedur yang dilanggar, mulai dari mengkarbit spesifikasi kapal, memuat lebih banyak dari daya angkut penumpang dan barang serta ketidak tahuan prosedur penanganan krisis.

Dengan banyaknya pelanggaran prosedur baik darat, laut dan udara, tidaklah mengherankan jika kecelakaan transportasi banyak menghiasi media cetak dan elektronik kita. Seringnya kecelakaan sudah seperti arisan bergilir kepada kita selaku penumpang. Hadiah utama arisan ini bisa menjumpai diri kita kapan saja.

Dukungan regulator (pemerintah) untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi awak transportasi juga sangat dibutuhkan. Dari beberapa kejadian kecelakaan kereta ditemukan kasus beberapa anggota TNI/orang sipil ada di ruang masinis yang seharusnya steril dari publik/umum. Sulit sekali untuk tidak menghubungkan beberapa kecelakaan tersebut dengan tekanan dari para penumpang gelap ini agar awak melanggar sinyal dan prosedur. Regulator juga diharapkan untuk dengan ketat secara berkala men-sertifikasi ulang para awak transportasi umum. Hal ini untuk mengetahui tingkat kecakapan. Awak sebagai pengendali utama sebuah moda transportasi dituntut tidak hanya bisa membawa angkutan massal. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana bersikap (attitude) ketika terjadi sesuatu yang di luar kenormalan. It’s about management of contingency (kalau cuma bisa/pandai “nyupir” mobil/kereta atau “bawa” kapal laut mah anak SD jika diajari juga pasti bisa).

About tikitakablog

www.facebook.com/tikitaka.fb
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s