Going Digital

Lonceng kematian TV analog sudah berbunyi. Digital TV akan menggantikan TV analog yang sudah “berjasa” menghibur kita mulai dari pertengahan abad yang lalu.

Berbeda dengan teman-temannya di Eropa dan US yang sudah mematikan total siaran analog tahun 2009 dan 2010, Australia baru akan mematikan total seluruh siaran analognya tahun 2013.  Tahun 2013 dipilih  mungkin setelah menimbang secara ekonomis dan teknis mengingat Australia merupakan kontinen terluas yang dikuasai oleh sebuah negara. Bandingkan dengan size negara-negara eropa yang lebih kecil dan lebih compact.

Australia sendiri sebenarnya telah menelurkan regulasi untuk beralih ke siaran digital sejak 1998 dan memulai ujicoba sejak 2001.  Mulai 2005 saluran-saluran tambahan dari signal digital sudah beroperasi secara rutin sampai sekarang. Proses transisi dimulai awal tahun 2010 ini dengan mematikan sinyal siaran analog di beberapa kota secara bertahap. Sementara Sydney sebagai kota terbesar akan mematikan sinyal analog ini tepat tanggal 31 Desember 2013 dan menjadikan hari itu sebagai pamungkas siaran analog di seluruh negeri kanguru.

Kenapa TV Digital?

Riset telah membuktikan teknologi DVB-T (Digital Video Broadcasting-Terrestrial/via udara) mempunyai keunggulan  dibandingkan dengan menggunakan sinyal analog. Keuntungannya antara lain: Suara dan gambar yang dihasilkan lebih jernih (bintik2 semut dan ghosting akan hilang – tapi mungkin diganti gambar patah-patah kotak seperti nonton CD yang sudah baret-baret –red🙂, bisa menonton dalam format layar lebar misalkan TV dengan rasio 16:9, bisa memilih dan merekam dengan mudah sehingga mungkin di masa depan tidak ada lagi “prime-time” karena masing2 orang bisa memilih kapan menonton TV dan acara yang disukai. Juga dari sisi transmisi, power yang digunakan lebih rendah serta utilisasi spektrum signal yang lebih efisien (sebuah stasiun TV bisa mempunyai beberapa kanal dari spectrum yang di alokasikan misalkan ada saluran RCTI Sport atau SCTV kids).

Pergantian dari analog ke digital ini tentu mengingatkan kita akan handphone yang awalnya analog (AMPS) akhirnya  beralih ke GSM (digital). Sama seperti kasus handphone ini, televisi yang nanti digunakan haruslah bisa mengerti sinyal digital yang dipancarkan oleh stasiun TV. Televisi set yang baru, kebanyakan sekarang sudah bisa membaca sinyal digital. Tetapi untuk yang masih punya TV lama, jangan putus asa, nafas TV lama (analog) sebenarnya masih diperpanjang dengan bantuan alat converter yang bernama set-top box. Tugas dari set-top box ini adalah mengubah sinyal digital menjadi sinyal analog yang dimengerti oleh TV lama anda.

Di Indonesia, sudah ada geliat dari konsorsium stasiun TV untuk menguji coba siaran digital pada awal tahun 2009. Tetapi karena ujicobanya belum serius (acaranya masih ompong, kadang-kadang beberapa hari kosong), maka banyak orang masih bingung dengan uji coba siaran digital ini. Padahal pemerintah RI sudah mencanangkan akan mematikan seluruh sinyal TV analog per tahun 2017 (kemungkinan bisa lebih cepat/diuntungkan  karena produksi TV setelah 2015 dipastikan sudah TV jenis digital semua).

Yang  perlu diketahui dari peralihan ke TV digital ini adalah: bentuk TV tidak berubah, cuma teknologi tuner di dalamnya bisa membaca signal digital yang dipancarkan oleh stasiun TV. Kemudian juga, TV tetap butuh antenna (baik luar dan atau dalam tergantung kekuatan sinyal di situ), persis seperti sebelumnya. Yang berubah adalah stasiun TV tidak lagi memancarkan sinyal analog, namun yang dipancarkan adalah signal digital. Itu saja.

Mulai sekarang, bersiap-siaplah mengkoleksi TV lama anda, siapa tahu tahun 2025 harganya bisa selangit🙂

About tikitakablog

www.facebook.com/tikitaka.fb
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Going Digital

  1. tikitakablog says:

    DVB-T merupakan bagian dari keluarga DVB yang lainnya yang lebih dulu dan lebih terkenal penggunaannya:
    DVB-S (via Satellite) atau DVB-C (via Cable) atau DVB-H (via Handheld).

  2. Pingback: Sydney says goodbye to analogue TV | Tikitaka's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s