Transportasi Massal dan Cepat di Jakarta

Baru-baru ini ada berita MRT (mass-rapid transportation) akan menggelar tender tahun 2011. Rencananya tahun 2016 sudah bisa beroperasi. Koridornya baru 1 dari Lebak Bulus sampai kp Bandan di Jakut (tahun 2016  hanya dari Lebak bulus ke Bundaran HI dan baru tembus ke Kp Bandan 2018). MRT yang terintegrasi dengan moda lainnya digadang2 bisa memberi secercah harapan akan solusi dari ruwetnya sistem transportasi jakarta.

Saya pribadi agak pesimis system transportasi secara umum di Jakarta akan membaik. Alasan saya sangat sederhana, Jakarta SUDAH TERLALU BANYAK ORANG DAN MOBIL serta kurangnya perencanaan system yang matang. Atau singkatnya: sangat telat kalau baru mau pikirkan solusi.

1. MRT rencananya selesai tahun 2018. Sedangkan perkiraan, di tahun 2014 dengan asumsi laju pertumbuhan kendaraan yang sama Jakarta akan macet total (baru keluar rumah sudah dihadang kemacetan). Jadi 2018 itu sudah telat. Jangan lupa, MRT yang direncanakan selesai tahun 2018 ini baru 1 koridor. Butuh beberapa tahap (baca: beberapa tahun) sampai bisa terintegrasi dengan moda lainnya (KRL).

2. Yang membuat macet itu sebenarnya juga adalah besarnya warga sekitar jakarta yang merupakan komuter. Penduduk Jakarta siang hari dan malam hari berbeda. Jika malam hari hanya sekitar 10 Juta, maka siang hari bisa mencapai 12-13 juta. Artinya ada pergerakan masuk dan keluar sekitar 2 Juta orang per hari per direction. Arus komuter inilah yang harus diakomodasi, sementara MRT Lebak Bulus – Kp. Bandan beroperasi di dalam wilayah jakarta. Betul ada rencana system feeder dan “park and ride”, tetapi kalau sudah masuk wilayah Jakarta tampaknya tidak akan efektiv (misalkan memaksa orang dari ciputat, pd cabe naik kendaraan pribadi sampai lebak bulus akan mengakibatkan jalan ciputat tetap macet).

3. KRL sebagai moda penunjang juga masih diragukan. Mari kita buat hitung-hitungan sederhana. Setahu saya, ada 3 1/2  koridor utama keluar-masuk Jakarta dengan menggunakan KRL. Yang pertama adalah dari arah timur (bekasi) yang masuk ke jatinegara (dipecah ke arah senen dan manggarai). Yang kedua adalah dari arah selatan (bogor)-manggarai-kota. Yang ketiga adalah dari arah barat daya: serpong-tanah abang. Dan yang 1/2 lagi adalah jalur Tangerang-Duri. Jalur Tangerah-Duri ini saya anggap setengah koridor karena keretanya tidak banyak dan efektif masih menggunakan 1 jalur. Seberapa banyak KRL ini bisa menyerap komuter? Umpamakan setiap kereta yang diberangkatkan ada 8 gerbong. Dan masing-masing gerbong berisikan 300 orang (hitungan yang masih manusiawi), maka sekali jalan kereta ini bisa mengangkut 2400 orang. Umpamakan “rush hour” pagi dihitung dari jam 6 s/d jam 10. Umpamakan lagi antar kereta bisa berjarak 10 menit (wah kapan ya keretanya datang bisa setiap 10 menit). Maka dari 3.5 koridor tersebut akan bisa mengangkut 2400x6x4x3.5=201,600 orang dalam kurun waktu 4 jam (rush hour). Jadi hanya 1/10 (sepersepuluh) dari 2 juta komuter yang terserap oleh KRL. Itupun hitungan sudah dibuat optimistic (sejak kapan KRL di jakarta bisa berangkat setiap 10 menit sekali antara jam 6 pagi s/d 10 di setiap koridornya?). Jadi 9/10 dari 2 juta komuter itu akan terserap oleh moda lain (bis dan kendaraan pribadi mobil/motor). Belum ada saya dengar orang dari selatan masuk jakarta lewat waterway ciliwung dan merapat di pasar baru.

Inilah kengerian yang belum terlalu tampak: Jakarta sudah kebanyakan orang. Sementara infrastrukturnya masih jauh dari memadai. Planning tidak ada (mungkin ada, tapi tidak serius). Ketika sudah stagnan baru cari-cari solusi. Saya coba membandingkan dengan beberapa kota yang cukup matang dalam mengelola transportasi berbasiskan rel: London dan Tokyo. London metropolitan mempunyai kepadatan populasi 5000kepala/km2 sedangkan Tokyo 6000kepala/km2. Sedangkan Jakarta mempunyai kepadatan 14,400kepala/km2 (http://en.wikipedia.org/wiki/Jakarta). Atau setara hampir 3x kepadatan London.

Bagaimana London dan Tokyo mensiasati system transportasi mereka? Kota-kota ini mengembangkan transportasi cepat berbasis rel (underground/subway).  Berikut saya tempelkan gambar koridor system di kedua kota:

Lalu bandingkan dengan Jakarta system berbasiskan rel:

Berikut adalah perbandingan secara kasar jaringan sistem transportasi berbasiskan rel di kota seperti London dan Tokyo dibandingkan dengan infrastruktur rel yang ada di jakarta

Kota-kota besar dengan kerapatan penduduk berkisar 5000-6000 orang per kilometer persegi dilayani dengan jaringan sistem transportasi massal berbasiskan rel yang cukup kompleks dan besar. Itupun ketika jam sibuk juga sudah seperti ikan sardin dalam kaleng. Kadang orang harus didorong supaya pintu kereta bisa ditutup.

Lalu bandingkan dengan jaringan sistem transportasi berbasiskan rel di jakarta. Untuk kota dengan kepadatan 14.5 ribu, infrastruktur jaringannya sangat sederhana. Akankan sistem ini bisa diandalkan menampung komuter Jakarta seandainya semua orang beralih ke sistem transportasi rel?

Oleh sebab itu saya sangat-sangat pesimis jika kemacetan Jakarta bisa diuraikan dengan cepat kecuali dengan adanya penanganan radikal. Padahal kita tahu penanganan radikal tidak bagus untuk citra para politikus yang kerjanya hanya mematut-matut diri sendiri.

Tentu sebagai manusia tidak boleh menyerah. Saya melihat tetap masih ada jalan keluar meskipun berat. Beberapa hal yang radikal yang harus dilakukan secara serius adalah:

1. Secara nasional, pemerintah pusat harus mempunyai cetak biru percepatan dan pemerataan pembangunan nasional (terutama bagi Indonesia Timur). Ini termasuk bersikap tegas kepada gubernur yang tidak bisa inline dengan roadmap yang sudah dibuat. Jika daerah luar Jakarta/Jawa  menggiurkan, orang, pemodal dan pebisnis akan berdatangan. Meskipun secara langsung tidak menarik orang Jakarta untuk pindah, minimal orang desa akan melupakan Jakarta sebagai tempat peruntungan. Gubernur sebagai raja daerah penguasa daerah juga harus dididik untuk bisa  mengembangkan potensi daerahnya. Jangan hanya pandai menciptakan pungutan/retribusi untuk menaikan pendapatan, tetapi harus juga berpikir kreativ bagaimana bisa menciptakan insentiv (keringanan pajak, kemudahan birokrasi dsb) dan  infrastruktur/sarana sabagai penarik pebisnis dan pemodal.

2. Gubernur Jakarta harus bertangan besi dan berani pasang badan (tetapi pandai berdiplomasi dan berkomunikasi dengan DPRD) dalam mengambil keputusan dan mengawal keputusan itu sampai jalan. System busway sebenarnya arah dan pijakannya sudah benar. Gubernur harus melakukan apapun yang terbaik untuk busway supaya jadi contoh sistem yang  berjalan baik. Jika perlu ambil alih semua sarana dan prasarana untuk ditata ulang. Lupakan untung rugi kerja sama dengan swasta di masa lampau.  Kerugian yang diderita Jakarta akibat kemacetan adalah Rp 4 trilyun per tahun. Jauh dari kerugian yang diderita akibat kerjasama abal2 dengan swasta di system busway. Rugi sedikit akibat kesalahan perjanjian kerja sama tidak apa2 yang penting Busway berjalan kembali sesuai desain awal.

3. Percepat pembangunan sarana dan prasarana berbasiskan rel.  Harus dibuat jalur-jalur tambahan/baru di luar dari jalur rel yang ada sekarang. Kalau bisa, sebelum 2020 semuanya sudah rampung (karena daya tampung ini akan berkejaran dengan ledakan jumlah penduduk Jakarta). Persoalannya adalah harga tanah sangat mahal dan pembebasan lahan tidak feasible lagi. Kemungkinan besar, semuanya harus dibuat di bawah permukaan tanah (underground). Tetapi inipun akan mengakibatkan biaya besar dan berimbas dengan harga tiket (harus dikaji mana yang lebih menguntungkan: underground apa surface).  Tetapi proyek ini harus dilakukan, jika tidak, sistem yang sudah ada akan sia2, karena orang akan jadi antipati. Sementara itu, sistem rel yang ada harus dibenahi. Persinyalan, jalur rel dan jaringan listrik haruslah dibuat lebih reliable dan menunjang pergerakan yang cepat. Jika jarak antar kereta kommuter adalah 10 menit (setelah mendekati pusat kota, antar koridor bisa saling silang sehingga bisa 3 menit sekali), sistem sinyal harus reliable. Karena jika terjadi kerusakan sinyal dan kereta harus berhenti/melambat, maka akan banyak jadwal kereta di belakangnya yang jadi kacau.

4. Kontrol laju pertumbuhan kendaraan pribadi (motor/mobil) serta kontrol penggunaannya. Bisa berupa:  pengenaan pajak yang tinggi untuk mobil kedua (non-niaga), implementasi 3in1 pada area yang lebih luas, perketat aturan kendaraan motor,  menaikkan biaya parkir yang tinggi pada zone tertentu. Tentu ini semua harus dibarengi dengan kompensasi. Misalkan SETELAH sistem busway dan kereta sudah tertata rapi. Kalau tidak, tentu orang akan protes.

Setelah itu mari kita lihat di tahun 2016. Akankah Jakarta berhasil menuntaskan masalahnya? atau malah terjadi gridlock di semua lini.

About tikitakablog

www.facebook.com/tikitaka.fb
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s